Panen Raya Lele di Tegalsambi, Mahasiswa TBPK Undip Buktikan Efisiensi 2 Bulan dari 1.500 Benih

Suasana pagi yang cerah di Desa Tegalsambi berubah menjadi arena semangat gotong-royong. Mulai pukul 07.00 hingga 09.00 WIB, kegiatan seremonial pemanenan ikan lele berlangsung meriah, menandai keberhasilan program budidaya yang digagas oleh mahasiswa Teknologi dan Bisnis Perikanan dan Kelautan (TBPK) Universitas Diponegoro bersama perangkat desa. (Kegiatan ini dilaksanakan pada 4 Maret 2026, namun semangat kebersamaan terasa sejak awal).

Tiga mahasiswa TBPK yang menjadi motor utama kolaborasi ini adalah Abid Azka Maulana, Aditya Cahyo Nugroho, dan Fika Nur Febrianti. Mereka turun langsung ke lokasi budidaya, ikut menebar jaring dan mengangkat ribuan lele yang gemuk-gemuk. Hasil panen dinilai sangat memuaskan menjadi sebuah bukti nyata bahwa sinergi antara akademisi dan masyarakat desa mampu mendongkrak produktivitas sektor perikanan sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari tingkat paling bawah.

Kepala Desa Tegalsambi, dalam sambutannya di sela-sela panen, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. “Program ini adalah hasil kolaborasi nyata dengan mahasiswa TBPK Undip. Ini juga menjadi implementasi Asta Cita Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto dalam hal ketahanan pangan di Desa Tegalsambi. Hasil panen memuaskan dan insyaallah akan besar manfaatnya bagi masyarakat sekitar,” ujarnya dengan penuh antusias.

Yang menarik, budidaya yang dijalankan tidak hanya menguntungkan tetapi juga sangat efisien. Abid Azka Maulana, selaku koordinator tim mahasiswa, menjelaskan, “Budidaya lele ini tergolong sangat cepat. Dengan kapasitas 1.500 ekor benih per kolam, kami mampu memanen dalam waktu hanya 2 bulan. Ini peluang besar untuk siklus produksi yang lebih padat dan menguntungkan.”

Dukungan Nyata terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Lebih dari sekadar panen raya, program budidaya lele ini secara langsung berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 1, 2, dan 14.

  • SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan / No Poverty): Dengan siklus panen yang cepat dan efisien (2 bulan), hasil penjualan lele memberikan pendapatan tambahan bagi kelompok tani dan warga yang terlibat. Peluang usaha ini membuka akses ekonomi bagi masyarakat Desa Tegalsambi, mengurangi beban pengeluaran rumah tangga, dan menciptakan lapangan kerja informal di sektor perikanan darat.
  • SDGs 2 (Tanpa Kelaparan / Zero Hunger): Budidaya lele ini menyediakan sumber protein hewani yang terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat sekitar. Dengan produksi yang stabil dan efisien, ketahanan pangan di tingkat desa meningkat. Warga tidak perlu lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar.
  • SDGs 14 (Ekosistem Lautan / Life Below Water): Meskipun budidaya lele dilakukan di air tawar, program ini secara tidak langsung mendukung kesehatan ekosistem laut. Dengan meningkatnya produksi ikan air tawar yang efisien, tekanan eksploitasi berlebihan (overfishing) terhadap ikan laut dapat dikurangi. Masyarakat didorong untuk mengonsumsi ikan hasil budidaya yang berkelanjutan, sehingga membantu menjaga keseimbangan stok ikan di alam.

Keberhasilan ini disambut gembira oleh warga sekitar yang hadir menyaksikan. Dengan adanya kegiatan panen raya ini, diharapkan budidaya lele tidak hanya berhenti sebagai proyek kolaborasi, tetapi terus dikembangkan menjadi solusi berkelanjutan untuk meningkatkan ketahanan pangan, mengentaskan kemiskinan, sekaligus menjaga kelestarian sumber daya perikanan laut sebuah langkah nyata dari Desa Tegalsambi menuju pencapaian SDGs 2030.