Kuliah Umum Prodi Teknologi dan Bisnis Perikanan dan Kelautan FPIK Undip yang Membahas Transformasi Logistik Perikanan dan Dampak Geopolitik Global terhadap Produk Perikanan Indonesia

Program Studi Teknologi dan Bisnis Perikanan dan Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Transformasi Logistik Perikanan di Indonesia Blue Economy & Power: Dampak Geopolitik Global terhadap Produk Perikanan Indonesia pada Perdagangan Internasional” pada Jumat, 24 April 2026 pukul 08.00–11.30 WIB di Ruang Teater MSTP.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber berpengalaman, yaitu Chairul Anwar, S.Sos., M.M. dan Sepri Situmeang, S.Pi., M.M. Kuliah umum diikuti oleh mahasiswa serta sivitas akademika yang antusias mendalami isu strategis mengenai blue economy, logistik perikanan, dan tantangan perdagangan global sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu eksportir produk perikanan terbesar di dunia dengan tren ekspor yang terus meningkat. Namun, sektor perikanan nasional juga menghadapi tantangan besar akibat dinamika geopolitik global, kebijakan tarif impor, hingga persaingan perdagangan internasional.

Disampaikan bahwa nilai ekspor perikanan Indonesia mencapai miliaran dolar Amerika Serikat dengan surplus perdagangan yang tetap positif. Pasar utama ekspor Indonesia meliputi Amerika Serikat, China, ASEAN, Jepang, dan Uni Eropa. Sementara itu, komoditas unggulan ekspor antara lain udang, tuna, cumi, dan gurita.

Narasumber juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia dalam perdagangan internasional, seperti tarif impor Amerika Serikat, kebijakan anti-dumping untuk produk udang, hingga standar mutu dan sertifikasi internasional yang semakin ketat. Selain itu, konflik geopolitik global seperti persaingan dagang Amerika Serikat–China serta konflik Rusia–Ukraina turut memengaruhi rantai pasok dan distribusi produk perikanan dunia.

Di sisi lain, terdapat peluang besar bagi Indonesia melalui penguatan pasar China dan ASEAN, pemanfaatan berbagai perjanjian perdagangan internasional, serta pergeseran pasar global akibat konflik geopolitik yang membuka peluang ekspor baru.

Materi berikutnya membahas transformasi logistik perikanan sebagai kunci keberhasilan sektor perikanan nasional. Narasumber menjelaskan bahwa logistik perikanan mencakup proses penanganan hasil tangkap mulai dari nelayan hingga distribusi kepada konsumen dan pasar ekspor. Oleh karena itu, sistem distribusi yang efisien sangat menentukan kualitas dan daya saing produk.

Transformasi logistik yang dibutuhkan meliputi penguatan sistem cold chain (rantai dingin), digitalisasi sistem pelacakan dan transparansi distribusi, integrasi sektor hulu-hilir, serta peningkatan efisiensi distribusi produk perikanan. Model rantai pasok yang terintegrasi dari nelayan, hub distribusi, cold storage, hingga pasar menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas dan ketepatan distribusi produk.

Dalam sesi diskusi juga dibahas berbagai tantangan pengembangan logistik perikanan di Indonesia, antara lain tingginya biaya investasi, keterbatasan sumber daya manusia, dan kondisi nelayan yang masih terfragmentasi. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan pembangunan infrastruktur, penguatan koperasi, digitalisasi sistem logistik, dan kolaborasi antar pemangku kepentingan.

Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk berperan aktif dalam pengembangan sektor perikanan melalui inovasi, penelitian, analisis rantai pasok, hingga pengembangan startup di bidang perikanan dan kelautan. Melalui kuliah umum ini, diharapkan mahasiswa Program Studi Teknologi dan Bisnis Perikanan dan Kelautan FPIK Undip dapat memahami pentingnya transformasi logistik perikanan serta mampu melihat peluang dan tantangan sektor perikanan Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik global dan perdagangan internasional.