Program Studi Teknologi dan Bisnis Perikanan dan Kelautan (TBPK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Universitas Diponegoro sukses menyelenggarakan kuliah umum daring bertajuk “Genetic Breeding and Biotechnology Fish” pada Kamis, 23 April 2026, pukul 07.30 WIB hingga selesai. Kegiatan ini menghadirkan narasumber ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), I Gusti Ngurah Permana, S.Pi., M.P., yang memaparkan strategi peningkatan produktivitas dan kualitas akuakultur berkelanjutan melalui pendekatan genetik dan bioteknologi. Dalam paparannya, narasumber menjelaskan bahwa produktivitas akuakultur saat ini berada di persimpangan antara metode konvensional yang mulai menunjukkan keterbatasan dan kebutuhan global yang terus meningkat, sehingga solusi utama yang ditawarkan adalah rekayasa genetik melalui intervensi genetik serta pemanfaatan bioteknologi.

Lebih lanjut, I Gusti Ngurah Permana menegaskan pentingnya pondasi genetik karena peningkatan hasil budidaya tidak hanya bergantung pada faktor lingkungan atau manajemen pakan, melainkan sangat ditentukan oleh kualitas genetik benih. Tanpa fondasi genetik yang kuat, pertumbuhan ikan akan terhambat, konversi pakan memburuk, limbah meningkat, serta kerentanan terhadap penyakit menjadi lebih tinggi. Penggunaan benih hasil seleksi terbukti mampu menekan Feed Conversion Ratio (FCR), sehingga ikan dapat tumbuh besar dengan pakan yang lebih sedikit. Dua pendekatan strategi pemuliaan yang diterapkan adalah seleksi keluarga, yaitu memilih individu terbaik dalam satu populasi berdasarkan performa pertumbuhan selama beberapa generasi, serta hibridisasi atau persilangan antar varietas untuk menghasilkan efek heterosis, yakni keturunan yang lebih unggul dari kedua induknya sehingga lebih toleran terhadap perubahan suhu dan iklim. Sebagai akselerator, narasumber juga memperkenalkan teknologi mutakhir seperti seleksi berbasis marka DNA (Marker-Assisted Selection) yang dapat dilakukan sejak stadia larva tanpa perlu menunggu ikan dewasa, serta manipulasi ploidi untuk menghasilkan ikan mandul dengan laju pertumbuhan daging yang sangat tinggi. Namun, beliau mengingatkan bahwa sinergi antara genetik unggul dan manajemen lapangan sangat penting, karena bibit unggul tidak akan optimal jika tidak didukung oleh sistem manajemen lingkungan yang baik. Kuliah umum berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta, yang terdiri atas mahasiswa TBPK, dosen, serta praktisi perikanan. Program Studi TBPK FPIK Undip berharap kegiatan ini dapat menjadi bekal berharga bagi pengembangan akuakultur berkelanjutan di Indonesia.