Belajar dari Raksasa Akuakultur China, UNDIP dan PT Dua Putra Perkasa Siapkan Lompatan Industri Udang Indonesia

GUANGZHOU, 26 April 2026 — Memperkuat visi Indonesia sebagai kekuatan marikultur global, delegasi multidisiplin dari Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama PT Dua Putra Perkasa (PT DPP) merampungkan kunjungan studi teknologi akuakultur di Tiongkok pada 20–26 April 2026.

Kunjungan strategis ini dipandu langsung oleh Mr. Zhang Zheng (Manager Haida Group) dan bertujuan untuk mengintegrasikan riset sains, rekayasa teknik sipil, serta manajemen finansial ke dalam operasional tambak skala industri yang sangat masif.

Delegasi UNDIP menghadirkan sinergi keahlian lintas bidang. Dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Prof. Agus Trianto, S.T., M.Sc., Ph.D. (Dekan dan Dosen Ilmu Kelautan), Dr. Agus Suherman, S.Pi., M.Si. (Dosen Perikanan Tangkap), Prof. Dr. Ir. Sarjito, M.App.Sc. (Dosen Akuakultur), dan Dr. Nuril Azhar, S.Kel., M.Si. (Dosen Teknologi dan Bisnis Perikanan dan Kelautan) berkontribusi dalam aspek budidaya perikanan, bioteknologi kelautan, kesehatan udang, dan sistem biosekuriti. Dari sisi rekayasa, Prof. Jati Utomo Dwi Hatmoko, S.T., M.M., M.Sc., Ph.D. (Fakultas Teknik) mengkaji desain konstruksi tambak dan sistem pengairan modern untuk mendukung budidaya intensif. Sementara itu, Prof. Dr. Harjum Muharam, S.E., M.E. (Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan) dan Mirwan Surya Perdhana, S.E., M.M., Ph.D. dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis menelaah aspek pembiayaan, efisiensi usaha, dan manajemen sumber daya manusia.

Kolaborasi ini diperkuat oleh Bapak Suharjito, S.E. selaku owner PT DPP bersama Bapak M. Zainul Fatih (Direktur Farm) dan tim, dengan fokus pada implementasi teknologi di tingkat industri. PT DPP sendiri mengelola tambak vannamei sebagai basis pengembangan produksi dan bisnis, termasuk unit tambak di Kabupaten Kaur, Bengkulu dengan luas kolam efektif 30 ha dan produktivitas mencapai sekitar 63 ton/ha per siklus, serta tambak di Sili, Sumbawa dengan luas kolam efektif 40 ha dan produktivitas sekitar 60 ton/ha per siklus. Sistem operasional budidaya dijalankan hingga dua siklus dalam satu tahun, sehingga mendukung peningkatan output produksi secara berkelanjutan. Fasilitas ini juga didukung oleh infrastruktur rantai dingin berupa warehouse cold storage berkapasitas sekitar 20.000 ton.

Selama kunjungan, delegasi melakukan eksplorasi sistem tambak di Zhangpu County yang menerapkan manajemen air laut berbasis dua reservoir, dengan proses sterilisasi dan filtrasi pasir berulang (hingga tiga tahap sand filter) sebagai standar utama biosekuriti sebelum air masuk ke kolam budidaya.

Penerapan sistem tersebut terbukti mendukung produktivitas budidaya intensif, khususnya pada komoditas vannamei dengan kepadatan tebar tinggi (520–600 ekor/m²) dan tinggi air 2,5–3 meter, yang mampu mencapai produksi hingga sekitar 120 ton/ha per siklus dengan durasi pemeliharaan ±110 hari. Sementara itu, budidaya udang windu (monodon) dilakukan dengan pendekatan berbeda, yaitu kepadatan lebih rendah (250–300 ekor/m²) dan siklus pemeliharaan lebih panjang (±150 hari), serta menerapkan sistem panen parsial bertahap untuk menjaga stabilitas biomassa dan efisiensi produksi. Dalam satu siklus tahunan, tambak tersebut membudidayakan vannamei pada musim dingin dan udang windu (monodon) pada musim panas.

Delegasi juga mendalami teknologi Electro-Chemical Activation (ECA) melalui mesin REINAG, yang mampu menghasilkan oksidator kuat seperti ozon dan klorin secara mandiri. Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan kimia eksternal.

Di sektor pembenihan, kunjungan ke hatchery Hisenor (unit hatchery dari Haida Group) menunjukkan penerapan sistem filtrasi air laut hingga 11 tahap, meliputi sand filter, nano filtration, ozonasi, klorinasi, dan ultraviolet (UV), guna memastikan kualitas air dan kesehatan larva secara optimal.

Selain itu, delegasi mengamati sistem greenhouse untuk budidaya vannamei di Dongshan County, Zhangzhou, Provinsi Fujian, yang memanfaatkan air sumur bor untuk menjaga stabilitas suhu dan kondisi lingkungan dari fluktuasi cuaca, serta didukung oleh penggunaan probiotik secara optimal dalam pengelolaan kualitas air.

Model budidaya greenhouse ini dinilai memiliki potensi tinggi untuk diadopsi di kawasan tambak Pantai Utara (Pantura) Jawa, Indonesia, khususnya pada wilayah yang secara ekologis telah mengalami degradasi. Pendekatan sistem tertutup dengan kontrol lingkungan yang lebih stabil memungkinkan peningkatan produktivitas sekaligus menekan risiko penyakit, sehingga menjadi alternatif solusi dalam revitalisasi tambak-tambak yang terdampak penurunan kualitas lingkungan.

Agenda puncak berlangsung di kantor pusat Haida Group di Guangzhou, termasuk kunjungan ke unit Hispirit, yang merupakan divisi peralatan dan otomasi. Pada unit ini, delegasi meninjau pengembangan autofeeder presisi tinggi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi pakan dan produktivitas dalam skala industri.

Kunjungan ini menghasilkan kesepakatan strategis untuk memperkuat rantai produksi udang nasional melalui kolaborasi antara sains dan industri, khususnya dalam penerapan sistem biosekuriti berlapis, efisiensi penggunaan input produksi, serta peningkatan produktivitas berbasis teknologi.

“Sinergi keahlian biosekuriti, rekayasa infrastruktur, dan manajemen bisnis menjadi modal kuat dalam mengadopsi teknologi ini. Sistem filtrasi 11 tahap dan teknologi ECA menjadi referensi penting untuk meningkatkan daya saing marikultur Indonesia,” ujar perwakilan delegasi dalam evaluasi akhir.

Lebih jauh, hasil kunjungan ini diproyeksikan menjadi titik awal transformasi besar industri akuakultur nasional. Implementasi teknologi hatchery berbasis standar tinggi, sistem manajemen air dua reservoir, serta otomasi produksi diyakini mampu mendorong peningkatan produktivitas, efisiensi pakan, dan stabilitas produksi secara signifikan.

Langkah ini sekaligus menandai akselerasi Indonesia menuju marikultur modern berbasis teknologi tinggi, dengan daya saing global yang semakin kuat di tengah ketatnya kompetisi industri udang dunia.