Dosen TBPK FPIK UNDIP berperan dalam Inovasi Maritim RI-Australia: Mengubah ‘Green Caviar’ Menjadi Obat Diabetes Berbasis Nanoliposom

CANBERRA, Mei 2026 – Dunia riset internasional mencatat tonggak baru dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati laut untuk sektor kesehatan global. Melalui program kemitraan strategis yang didanai oleh KONEKSI BRIN Project, para ilmuwan lintas negara sukses menggelar agenda ilmiah Indonesia Australia Collaborative Workshop on Seagrape Nanoliposome Innovation for Diabetes. Rangkaian lokakarya intensif yang menonjolkan pendekatan translasional mutakhir ini diselenggarakan di dua universitas riset papan atas dunia, yaitu Australian National University (ANU) dan University of New South Wales (UNSW), Canberra.

Proyek berskala global ini mengusung tajuk utama “Strengthening Health Resilience and Sustainable Marine Biodiversity in Indonesia by Developing Innovative Nanoliposome Product from Seagrapes for Diabetes Treatment”. Fokus utama dari penelitian internasional ini adalah mengeksplorasi potensi masif dari anggur laut (Caulerpa lentillifera) atau yang di pasar internasional dikenal sebagai green caviar. Dari sudut pandang biomedis, alga makro ini diidentifikasi sebagai “tambang emas” (gold mine) senyawa bioaktif sekunder khusus yang tidak dimiliki tanaman darat, menjadikannya agen alami yang sangat potensial untuk mengontrol kadar glikemik dan bertindak sebagai komponen anti-hiperglikemik bagi penderita diabetes.

Di dalam forum tersebut, dosen dari program studi Teknologi dan Bisnis Perikanan dan Kelautan (TBPK) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Dr. Eko Susanto, memegang peranan krusial pada pilar hulu rantai pasok industri farmasi maritim (marine-derived pharmaceuticals). Membawakan paparan ilmiah bertajuk “From Ocean to Pharmacy: Sustainable Sourcing, Scalable Extraction and Application of Caulerpa lentillifera Bioactive Compounds”, Dr. Eko mengupas tuntas strategi krusial untuk mengatasi supply problem. Dr. Eko menawarkan solusi inovasi teknologi budidaya anggur laut lokal Indonesia serta optimalisasi parameter ekstraksi mutakhir, seperti metode Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) dan Microwave-Assisted Extraction (MAE), untuk menghasilkan rendemen komponen bioaktif (seperti polisakarida sulfat dan caulerpin) yang tinggi, murni, dan presisi. guna menyuplai kebutuhan penggunaan anggur laut. Hilirisasi riset ini mengintegrasikan ekstraksi hulu dengan sistem penghantaran obat (drug delivery system) berbasis nanoliposom di sisi hilir guna mengoptimalkan efikasi regulasi glukosa dalam tubuh. Keberhasilan proyek bernilai strategis ini didorong oleh sinergi solid konsorsium multidisiplin yang melibatkan institusi-institusi terkemuka dari kedua negara. Di pihak Indonesia, kolaborasi diperkuat oleh UNAIR, UNDIP, POLINES, BRIN, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), serta PT Nanotech Global Indonesia. Sementara dari tim Australia, proyek ini didukung penuh oleh kepakaran dari Australian National University (ANU), University of New South Wales (UNSW), dan Monash University. Sinergi akademik ini diharapkan mampu menghasilkan produk inovasi kesehatan berstandar global sekaligus memperkuat ketahanan medis nasional.